Senin, 13 Oktober 2014

Thesis Summary

ABSTRAK


Ismail Umar, 2014. Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis antara Siswa yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Model Pembelajaran Langsung. Skripsi. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Makassar (dibimbing oleh Mushawwir Taiyeb dan Irma Suryani).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa antara yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah dengan model pembelajaran langsung pada materi sistem pertahanan tubuh. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasy experimental). Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pangkep tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 6 kelas dengan jumlah siswa 194 siswa. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik cluster random sampling, sehingga diperoleh kelas XI IPA 2 sebagai kelompok pembanding dan kelas XI IPA 3 sebagai kelompok dibanding. Kelompok dibanding dibelajarkan dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah. Kelompok pembanding dibelajarkan dengan menerapkan model pembelajaran langsung. Instrumen yang digunakan adalah tes yang perumusannya merujuk kepada indikator-indikator kemampuan berpikir kritis. Tes diberikan sebanyak 2 kali yaitu pada saat pretest (tes awal) dan posttest (tes akhir). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik deskriptif dan uji hipotesis secara inferensial dengan menggunakan analisis kovarian dengan taraf signifikansi 0,05 = α. Program yang digunakan adalah SPSS versi 20,0. Hasil statistik analisis kovarian menunjukkan nilai sig (2-tailed) 0,001 < α. Dengan demikian Ho ditolak, dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah dengan model pembelajaran langsung.

Kata kunci : Kemampuan berpikir kritis, model pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran langsung
  
A.    Pendahuluan
Berpikir kritis merupakan topik yang penting dan vital dalam era pendidikan modern. Dengan memiliki kemampuan berpikir yang kritis oleh siswa maka mereka dapat mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum atau yang akan dicapai dalam proses pembelajaran, serta mereka  mampu merancang dan mengarungi kehidupannya pada masa datang yang penuh dengan tantangan, persaingan, dan ketidakpastian.
Wilson dalam Muhfahroyin (2009) mengemukakan beberapa alasan perlunya mengembangkan keterampilan berpikir kritis sebagai berikut: 1) budaya berpikir kritis mencegah pengetahuan yang didasarkan pada hafalan di mana individu tidak dapat menyimpan ilmu pengetahuan dalam ingatan mereka untuk penggunaan yang akan datang, 2) informasi menyebar luas dengan sangat cepat, individu membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk mengenali permasalahan dalam konteks yang berbeda pada waktu yang berbeda pula, 3) masyarakat modern membutuhkan individu yang dapat menggabungkan informasi yang berasal dari berbagai sumber dan membuat keputusan.
Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis seyogyanya merupakan suatu kemampuan yang harus dimiliki setiap orang. Untuk itu proses pembelajaran setiap jenjang pendidikan seharusnya memfokuskan pada pengembangan berpikir kritis siswa. Namun upaya untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa sering luput dari perhatian guru. Hal ini tampak dari hasil obsevasi di SMA Negeri 1 Pangkep. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru lebih banyak memberi informasi dengan menggunakan model pembelajaran langsung (direct instruction) yang memiliki filosofi teacher centered. Pola pembelajaran yang diterapkan terkondisi pada guru sebagai pusat pembelajaran itu sendiri. Artinya, pemahaman yang dimiliki siswa tergantung kepada hal yang dipahami gurunya. Hal ini menunjukkan bahwa guru belum memberikan porsi yang besar dalam pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Kurang terampilnya guru dalam memilih pendekatan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis menyebabkan siswa kurang terlatih untuk memecahkan masalah maupun persoalan yang terkait dengan dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Sadia (2008), model-model pembelajaran yang dipandang akan memberi kontribusi yang signifikan dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis adalah pembelajaran kontekstual, model pembelajaran berbasis masalah, model sains-teknologi-masyarakat, model siklus belajar, dan model pembelajaran berbasis penilaian portofolio. Adapun model yang paling sering digunakan oleh guru adalah model pembelajaran langsung atau konvensional, yang lebih memusatkan arus proses belajar mengajar pada guru (teacher-centered).
Berdasarkan dari uraian di atas, penulis tertarik dan bermaksud melakukan penelitian tentang perbandingan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah dengan model pembelajaran langsung.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah?  (2) Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung? (3) Apakah ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa antara yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran langsung?.
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siwa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah (2) Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siwa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung (3) Untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa antara yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran langsung. mempertimbangkan hasil induksi (4) mengidentifikasi asumsi (5) memutuskan suatu tindakan.

B.     Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2013/2014, pada bulan Mei-Juni 2014 di SMA Negeri 1 Pangkep. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI yang berjumlah 194 siswa. Sampel penelitian ini adalah kelas XI IPA 2 yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) berjumlah 32 siswa dan kelas XI IPA 3 yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung (PL)  berjumlah 30 siswa.
Variabel bebas penelitian ini adalah (1) Model pembelajaran berbasis masalah (2) Model pembelajaran langsung dan variabel terikat adalah kemampuan berpikir kritis. Desain penelitian yang digunakan adalah nonequivalent control group design.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa adalah tes berbentuk essay merujuk kepada 5 indikator kemampuan berpikir kritis yaitu: (1) memfokuskan pertanyaan (2) bertanya dan menjawab tentang suatu penjelasan (3) membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi (4) mengidentifikasi asumsi (5) memutuskan suatu tindakan.
Data yang diperoleh dianalisis dengan cara analisis statistik deskriptif dan analisis statisik inferensial dengan menggunakan program Microsoft excel 2010 dan SPPS versi 20.0. Uji statistik inferensial menggunakan teknik analysis covarian dilakukan pada taraf signifikansi 5%. Sebelum dilakukan analysis covarian dilakukan uji prasyarat, yaitu uji homogenitas dan uji normalitas.

C.    Hasil dan Pembahasan
1.      Hasil penelitian
1)      Uji Hipotesis
Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah dengan menggunakan uji statistik anakova dengan bantuan program SPSS 20.0. Sebelum melakukan uji anakova terlebih dahulu diperlukan uji prasyarat, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.
a.      Uji Normalitas
Uji normalitas distribusi data kemampuan berpikir kritis siswa kelas dibanding dan kelas pembanding dilakukan dengan menggunakan One-Sample Kolmogrov-Smirnov Test. Adapun hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 1.
 Tabel 1. Hasil Uji Normalitas pada Kelas Dibanding dan Kelas Pembanding

Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig (2-Tailed)
Keterangan
Nilai pretes direct
,491
,969
Terdistribusi normal
Nilai postes direct
,718
,681
Terdistribusi normal
Nilai pretes PBM
,660
,777
Terdistribusi normal
Nilai postes PBM
1,073
,200
Terdistribusi normal
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas varian data kemampuan berpikir kritis siswa kelas dibanding dan kelas pembanding dilakukan dengan menggunakan Levene Test (Test of Homogeneity of Variances). Adapun hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas

Sig.
Keterangan
Levene test
,845
Varian kedua kelas homogen
c.       Uji Statistik Anakova
Setelah memperhatikan karakteristik variabel yang telah diteliti dan prasyarat analisis yaitu data yang diperoleh berdistrubusi normal dan memiliki variansi yang homogeny, maka uji hipotesis dilakukan dengan uji anakova. Pengujian hipotesis dengan taraf  α = 0,05. Kriteria pengujian adalah jika Sig. (2-tailed) < α = 0,05, maka H0 ditolak dan Hditerima. Hasil statistik diperoleh nilai signifikansi 0,001 < α = 0,05, berarti H0 ditolak dan Ha diterima.
 Tabel 3. Hasil Uji Statistik Anakova

Sig.
Keterangan
Corrected model
,000
Ho ditolak, Ha diterima
Intercept
,000
Ho ditolak, Ha diterima
Nilai pretest
,000
Ho ditolak, Ha diterima
Model
,001
Ho ditolak, Ha diterima
Hal ini berarti, kemampuan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah memiliki perbedaan yang signifikan dengan kemampuan berpikir kritis pada siswa yang dibelajarkan model pembelajaran langsung.
  
2.      Pembahasan
Salah satu penyebab rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa adalah karena pendekatan pembelajaran yang digunakan guru cenderung tidak memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengajukan masalah dan menemukan solusinya. Itulah dugaan awal yang pada akhirnya setelah penelitian memperlihatkan data yang mendukung dugaan tersebut. Kemampuan berpikir kritis adalah suatu kemampuan untuk menganalisis argument atau fakta kemudian dapat menarik kesimpulan yang tepat. Kemampuan ini tidak akan berkembang jika dalam proses belajar mengajar guru mengambil porsi terbesar dalam bagiannya. Sehingga siswa cenderung memiliki aktifitas yang pasif, baik itu mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dan berdiskusi. Hal inilah yang terlihat pada kelompok yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung. Guru hanya menyisakan sedikit ruang bagi siswa untuk “berekspresi”, yakni hanya pada bagian siswa menjawab LKS yang diberikan oleh guru. Itupun pola menjawab hanya terjadi antara guru dengan siswa yang menjawab, guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa lain setidaknya hanya untuk menambahkan ataupun menanggapi. Hal ini terjadi bukan karena keinginan guru semata, melainkan karena sintaks dari model pembelajaran langsung yang memang kurang fleksibel dan membuat guru menjadi dominan, inilah sebabnya model ini disebut memiliki filosofi teacher center. Hal ini berbanding terbalik dengan model pembelajaran berbasis masalah yang memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk  mengembangkan daya pikir mereka khususnya dalam hal pemecahan masalah. Di samping itu, model pembelajaran berbasis masalah memiliki ciri siswa bekerja sama dalam kelompok kecil sehingga dapat memotivasi siswa untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan berpeluang agar siswa melakukan inkuiri dan berdialog untuk mengembangkan keterampilan berpikir. Dengan karakteristik seperti ini, dalam proses belajar mengajar siswa mengambil bagian terbesar sedangkan guru hanya menjadi mediator atau fasilitator, inilah yang menyebabkan model ini dianggap memiliki filosofi student center.
Menurut Setyorini (2011) proses pembelajaran berbasis masalah ditandai dengan adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa maupun guru), kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang diketahui dan bagaimana untuk memecahkan masalah secara berkelompok agar saling membantu sehingga mampu berkolaborasi dalam memecahkan masalah. Melalui model pembelajaran berbasis masalah dengan anggota kelompok yang heterogen memungkinkan siswa untuk saling bertukar pikiran, bekerjasama untuk memecahkan masalah yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian penerapan model pembelajaran berbasis masalah  juga membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Berbeda halnya pada model pembelajaran langsung siswa tidak diberikan masalah, tetapi siswa hanya diberi penjelasan saja sedangkan siswa hanya menulis saja apa yang dikatakan oleh guru maka siswa hanya mendapatkan pengetahuan yang kurang bahwa suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi kuliah atau materi pelajaran. Selanjutnya dikemukakan bahwa pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis yaitu model pembelajaran berbasis masalah. Model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu pendekatan yang menantang siswa untuk mencari solusi suatu masalah dari dunia nyata yang dapat diselesaikan secara berkelompok. Pembelajaran berbasis masalah mengarahkan siswa untuk belajar mandiri sehingga dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan dapat menganalisis masalah yang ada di dunia nyata (Yuan 2008).

D.    Kesimpulan dan Saran
1.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Kemampuan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan dengann model pembelajaran berbasis masalah berada pada kategori cukup pada test awal dan kategori baik pada tes akhir. Dan n-gain yang diperoleh berada pada kategori sedang.
2.      Kemampuan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung berada pada kategori kurang baik pada tes awal dan kategori cukup pada tes akhir. Dan n-gain yang diperoleh berada pada kategori rendah.
3.      Ada perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah dengan model pembelajaran langsung.

2.      Saran
1.      Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian di atas, maka saran yang dapat diajukan oleh peneliti adalah sebagai berikut.
2.      Para guru, khususnya guru Biologi dapat memilih model pembelajaran berbasis masalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siwa.
3.      Dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah hendaknya dilakukan persiapan yang lebih matang agar diperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Daftar Pustaka

Muhfahroyin. 2004. Memberdayakan Kemampuan Berpikir Kritis. http://muhfahroyin.blogspot.com/2009/01/berpikir-kritis.html. Diakses tanggal 22 Maret 2014.

Sadia, I. W. 2008. Model Pembelaran yang Efektif untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. (2), 219-237.

Setyorini. 2011. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP. Jurusan Fisika FMIPA UNNES Semarang Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011) 52-66.

Sudarman. 2007. Pembelajaran Berbasis Masalah: suatu model pembelajaran untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Jurnal Pendidikan Inovatif, 2 (2)


Yuan. 2008. Promoting Critical Thinking Skill through Pembelajaran Berbasis Masalah. CMU. Journal of Soc. Sci. And Human, 2 (2): 85-100