ABSTRAK
Ismail Umar, 2014. Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis antara Siswa
yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Model
Pembelajaran Langsung. Skripsi. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Makassar (dibimbing oleh Mushawwir Taiyeb
dan Irma Suryani).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir
kritis siswa antara yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis
masalah dengan model pembelajaran langsung pada materi sistem pertahanan tubuh.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasy experimental). Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa
kelas XI SMA Negeri 1 Pangkep tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 6 kelas
dengan jumlah siswa 194 siswa. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik cluster random sampling, sehingga
diperoleh kelas XI IPA 2 sebagai kelompok pembanding dan kelas XI IPA 3 sebagai
kelompok dibanding. Kelompok dibanding dibelajarkan dengan menerapkan model
pembelajaran berbasis masalah. Kelompok pembanding dibelajarkan dengan
menerapkan model pembelajaran langsung. Instrumen yang digunakan adalah tes
yang perumusannya merujuk kepada indikator-indikator kemampuan berpikir kritis.
Tes diberikan sebanyak 2 kali yaitu pada saat pretest (tes awal) dan posttest
(tes akhir). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik deskriptif dan uji
hipotesis secara inferensial dengan menggunakan analisis kovarian dengan taraf
signifikansi 0,05 = α.
Program yang digunakan adalah SPSS versi 20,0. Hasil statistik analisis
kovarian menunjukkan nilai
sig (2-tailed) 0,001 < α. Dengan demikian Ho ditolak, dan Ha diterima.
Sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa
yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah dengan model
pembelajaran langsung.
Kata kunci : Kemampuan berpikir
kritis, model pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran langsung
A.
Pendahuluan
Berpikir
kritis merupakan topik yang penting dan vital dalam era pendidikan modern.
Dengan memiliki kemampuan
berpikir yang kritis oleh
siswa maka mereka dapat mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam
kurikulum atau yang akan dicapai dalam proses pembelajaran, serta mereka mampu merancang dan mengarungi kehidupannya
pada masa datang yang penuh dengan tantangan, persaingan, dan ketidakpastian.
Wilson
dalam Muhfahroyin (2009) mengemukakan beberapa alasan perlunya mengembangkan
keterampilan berpikir kritis sebagai berikut: 1) budaya berpikir kritis
mencegah pengetahuan yang didasarkan pada hafalan di mana individu tidak dapat
menyimpan ilmu pengetahuan dalam ingatan mereka untuk penggunaan yang akan
datang, 2) informasi menyebar luas dengan sangat cepat, individu membutuhkan kemampuan
berpikir kritis untuk mengenali permasalahan dalam konteks yang berbeda pada
waktu yang berbeda pula, 3) masyarakat modern membutuhkan individu yang dapat menggabungkan
informasi yang berasal dari berbagai sumber dan membuat keputusan.
Oleh karena
itu, kemampuan berpikir kritis seyogyanya merupakan suatu kemampuan yang harus
dimiliki setiap orang. Untuk itu proses pembelajaran setiap jenjang pendidikan
seharusnya memfokuskan pada pengembangan berpikir kritis siswa. Namun upaya
untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa sering luput
dari perhatian guru. Hal ini tampak dari hasil obsevasi di SMA Negeri 1 Pangkep. Kegiatan pembelajaran yang
dilakukan guru lebih banyak memberi informasi dengan menggunakan model
pembelajaran langsung (direct instruction) yang memiliki filosofi teacher
centered. Pola pembelajaran yang diterapkan terkondisi pada guru sebagai
pusat pembelajaran itu sendiri. Artinya, pemahaman yang dimiliki siswa
tergantung kepada hal yang dipahami gurunya. Hal ini menunjukkan bahwa guru
belum memberikan porsi yang besar dalam pembelajaran untuk mengembangkan
kemampuan berpikir kritis siswa.
Kurang terampilnya guru dalam memilih
pendekatan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir
kritis menyebabkan siswa kurang terlatih untuk memecahkan masalah maupun
persoalan yang terkait dengan dengan kehidupan sehari-hari. Menurut
Sadia (2008), model-model pembelajaran yang dipandang akan memberi kontribusi
yang signifikan dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis adalah
pembelajaran kontekstual, model pembelajaran berbasis masalah, model
sains-teknologi-masyarakat, model siklus belajar, dan model pembelajaran berbasis
penilaian portofolio. Adapun model yang paling sering digunakan oleh guru
adalah model pembelajaran langsung atau konvensional,
yang lebih memusatkan arus proses belajar mengajar pada guru (teacher-centered).
Berdasarkan
dari uraian di atas, penulis tertarik dan bermaksud melakukan penelitian
tentang perbandingan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang dibelajarkan
dengan model pembelajaran berbasis masalah dengan model pembelajaran langsung.
Berdasarkan
uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam
penelitian ini adalah: (1) Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa yang
dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah? (2) Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa
yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung? (3) Apakah ada perbedaan
kemampuan berpikir kritis siswa antara yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran langsung?.
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang akan
dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui kemampuan berpikir
kritis siwa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah (2)
Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siwa yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran langsung (3) Untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis
siswa antara yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah dan
model pembelajaran langsung. mempertimbangkan hasil induksi (4)
mengidentifikasi asumsi (5) memutuskan suatu tindakan.
B.
Metode
Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian eksperimen semu yang dilaksanakan pada semester genap
tahun ajaran 2013/2014, pada bulan Mei-Juni 2014 di SMA Negeri 1 Pangkep.
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI yang berjumlah 194
siswa. Sampel penelitian ini adalah kelas XI IPA 2 yang dibelajarkan dengan
model pembelajaran berbasis masalah (PBM) berjumlah 32 siswa dan kelas XI IPA 3
yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung (PL) berjumlah 30 siswa.
Variabel
bebas penelitian ini adalah (1) Model pembelajaran berbasis masalah (2) Model
pembelajaran langsung dan variabel terikat adalah kemampuan berpikir kritis.
Desain penelitian yang digunakan adalah nonequivalent
control group design.
Instrumen
yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa adalah tes
berbentuk essay merujuk kepada 5 indikator kemampuan berpikir kritis yaitu: (1)
memfokuskan pertanyaan (2) bertanya dan menjawab tentang suatu penjelasan (3)
membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi (4) mengidentifikasi asumsi
(5) memutuskan suatu tindakan.
Data
yang diperoleh dianalisis dengan cara analisis statistik deskriptif dan
analisis statisik inferensial dengan menggunakan program Microsoft excel 2010
dan SPPS versi 20.0. Uji statistik inferensial menggunakan teknik analysis covarian dilakukan pada taraf
signifikansi 5%. Sebelum dilakukan analysis covarian dilakukan uji prasyarat,
yaitu uji homogenitas dan uji normalitas.
C.
Hasil
dan Pembahasan
1.
Hasil
penelitian
1)
Uji
Hipotesis
Teknik analisis yang digunakan untuk
menguji hipotesis adalah dengan menggunakan uji statistik anakova dengan
bantuan program SPSS 20.0. Sebelum melakukan uji anakova terlebih dahulu
diperlukan uji prasyarat, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.
a.
Uji
Normalitas
Uji
normalitas distribusi data kemampuan berpikir kritis siswa kelas dibanding dan
kelas pembanding dilakukan dengan menggunakan One-Sample Kolmogrov-Smirnov Test. Adapun
hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 1.
|
|
Kolmogorov-Smirnov Z
|
Asymp. Sig (2-Tailed)
|
Keterangan
|
|
Nilai
pretes direct
|
,491
|
,969
|
Terdistribusi
normal
|
|
Nilai
postes direct
|
,718
|
,681
|
Terdistribusi
normal
|
|
Nilai
pretes PBM
|
,660
|
,777
|
Terdistribusi
normal
|
|
Nilai
postes PBM
|
1,073
|
,200
|
Terdistribusi
normal
|
b. Uji
Homogenitas
Uji
homogenitas varian data kemampuan berpikir kritis siswa kelas dibanding dan
kelas pembanding dilakukan dengan menggunakan Levene Test (Test of Homogeneity of Variances). Adapun hasil uji
normalitas dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil
Uji Homogenitas
|
|
Sig.
|
Keterangan
|
|
Levene test
|
,845
|
Varian
kedua kelas homogen
|
c.
Uji Statistik
Anakova
Setelah memperhatikan
karakteristik variabel yang telah diteliti dan prasyarat analisis yaitu data yang diperoleh berdistrubusi normal dan memiliki
variansi yang homogeny, maka uji hipotesis dilakukan dengan uji anakova. Pengujian
hipotesis dengan taraf α = 0,05. Kriteria pengujian adalah jika Sig. (2-tailed) < α = 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima.
Hasil statistik diperoleh nilai signifikansi 0,001 < α
= 0,05, berarti H0 ditolak dan Ha diterima.
|
|
Sig.
|
Keterangan
|
|
Corrected
model
|
,000
|
Ho ditolak,
Ha diterima
|
|
Intercept
|
,000
|
Ho ditolak,
Ha diterima
|
|
Nilai
pretest
|
,000
|
Ho ditolak,
Ha diterima
|
|
Model
|
,001
|
Ho ditolak,
Ha diterima
|
Hal
ini berarti, kemampuan berpikir kritis siswa yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran berbasis masalah memiliki perbedaan yang signifikan dengan
kemampuan berpikir kritis pada siswa yang dibelajarkan model pembelajaran
langsung.
2.
Pembahasan
Salah
satu penyebab rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa adalah karena pendekatan
pembelajaran yang digunakan guru cenderung tidak memberikan kebebasan kepada
siswa untuk mengajukan masalah dan menemukan solusinya. Itulah dugaan awal yang
pada akhirnya setelah penelitian memperlihatkan data yang mendukung dugaan
tersebut. Kemampuan berpikir kritis adalah suatu kemampuan untuk menganalisis
argument atau fakta kemudian dapat menarik kesimpulan yang tepat. Kemampuan ini
tidak akan berkembang jika dalam proses belajar mengajar guru mengambil porsi
terbesar dalam bagiannya. Sehingga siswa cenderung memiliki aktifitas yang
pasif, baik itu mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dan berdiskusi. Hal
inilah yang terlihat pada kelompok yang dibelajarkan dengan model pembelajaran
langsung. Guru hanya menyisakan sedikit ruang bagi siswa untuk “berekspresi”,
yakni hanya pada bagian siswa menjawab LKS yang diberikan oleh guru. Itupun
pola menjawab hanya terjadi antara guru dengan siswa yang menjawab, guru tidak
memberikan kesempatan kepada siswa lain setidaknya hanya untuk menambahkan ataupun
menanggapi. Hal ini terjadi bukan karena keinginan guru semata, melainkan
karena sintaks dari model pembelajaran langsung yang memang kurang fleksibel
dan membuat guru menjadi dominan, inilah sebabnya model ini disebut memiliki
filosofi teacher center. Hal ini
berbanding terbalik dengan model pembelajaran berbasis masalah yang memberikan
lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan daya pikir mereka khususnya dalam hal pemecahan masalah.
Di samping itu, model pembelajaran berbasis masalah memiliki ciri siswa bekerja
sama dalam kelompok kecil sehingga dapat memotivasi siswa untuk secara
berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan berpeluang agar siswa
melakukan inkuiri dan berdialog untuk mengembangkan keterampilan berpikir.
Dengan karakteristik seperti ini, dalam proses belajar mengajar siswa mengambil
bagian terbesar sedangkan guru hanya menjadi mediator atau fasilitator, inilah
yang menyebabkan model ini dianggap memiliki filosofi student center.
Menurut
Setyorini (2011) proses pembelajaran berbasis masalah ditandai dengan adanya
masalah (dapat dimunculkan oleh siswa maupun guru), kemudian siswa memperdalam
pengetahuannya tentang apa yang diketahui dan bagaimana untuk memecahkan
masalah secara berkelompok agar saling membantu sehingga mampu berkolaborasi
dalam memecahkan masalah. Melalui model pembelajaran berbasis masalah dengan
anggota kelompok yang heterogen memungkinkan siswa untuk saling bertukar
pikiran, bekerjasama untuk memecahkan masalah yang pada akhirnya dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian penerapan model
pembelajaran berbasis masalah juga
membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Berbeda halnya
pada model pembelajaran langsung siswa tidak diberikan masalah, tetapi siswa
hanya diberi penjelasan saja sedangkan siswa hanya menulis saja apa yang
dikatakan oleh guru maka siswa hanya mendapatkan pengetahuan yang kurang bahwa
suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai
konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan ketrampilan
pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial
dari materi kuliah atau materi pelajaran. Selanjutnya dikemukakan bahwa
pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis yaitu model
pembelajaran berbasis masalah. Model pembelajaran berbasis masalah merupakan
salah satu pendekatan yang menantang siswa untuk mencari solusi suatu masalah
dari dunia nyata yang dapat diselesaikan secara berkelompok. Pembelajaran
berbasis masalah mengarahkan siswa untuk belajar mandiri sehingga dapat
mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan dapat menganalisis masalah yang
ada di dunia nyata (Yuan 2008).
D.
Kesimpulan
dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari analisis
data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.
Kemampuan berpikir kritis siswa yang
dibelajarkan dengann model pembelajaran berbasis masalah berada pada kategori
cukup pada test awal dan kategori baik pada tes akhir. Dan n-gain yang
diperoleh berada pada kategori sedang.
2.
Kemampuan berpikir kritis siswa yang
dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung berada pada kategori kurang
baik pada tes awal dan kategori cukup pada tes akhir. Dan n-gain yang diperoleh
berada pada kategori rendah.
3.
Ada perbedaan kemampuan berpikir kritis antara
siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah dengan model
pembelajaran langsung.
2. Saran
1.
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian di atas,
maka saran yang dapat diajukan oleh peneliti adalah sebagai berikut.
2.
Para guru, khususnya guru Biologi dapat memilih
model pembelajaran berbasis masalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir
kritis siwa.
3.
Dalam menerapkan model pembelajaran berbasis
masalah hendaknya dilakukan persiapan yang lebih matang agar diperoleh hasil
sesuai dengan yang diharapkan.
Daftar Pustaka
Muhfahroyin. 2004. Memberdayakan Kemampuan Berpikir Kritis.
http://muhfahroyin.blogspot.com/2009/01/berpikir-kritis.html. Diakses tanggal
22 Maret 2014.
Sadia, I. W. 2008. Model Pembelaran yang Efektif untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir
Kritis. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. (2), 219-237.
Setyorini. 2011. Penerapan
Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kritis Siswa SMP. Jurusan Fisika FMIPA UNNES Semarang Jurnal Pendidikan
Fisika Indonesia 7 (2011) 52-66.
Sudarman. 2007. Pembelajaran
Berbasis Masalah: suatu model pembelajaran untuk mengembangkan dan meningkatkan
kemampuan memecahkan masalah. Jurnal
Pendidikan Inovatif, 2 (2)
Yuan. 2008. Promoting Critical Thinking Skill through Pembelajaran
Berbasis Masalah. CMU. Journal of
Soc. Sci. And Human, 2 (2): 85-100